Mulia dengan Taqwa di Bulan yang Mulia (Jadilah terdidik dan mendidik)
K
Khaerul Umam
21 Februari 20261 min baca5 views
Bagikan:
Sebagaimana harapan dan tujuan dari berjalannya ibadah shaum di bulan Ramadhan adalah Qs. 2:183 La’allakum Tattaquun(agar kalian semua bertaqwa). Definisi takwa yang disampaikan oleh Ubay bin Ka'ab merupakan salah satu penjelasan yang paling populer dan indah dalam khazanah Islam. Penjelasan ini tidak berbentuk hadis marfu' (sabda langsung dari Nabi SAW), melainkan sebuah atsar (perkataan sahabat) yang muncul dari percakapan beliau dengan Umar bin Khattab:
Suatu ketika, Umar bin Khattab bertanya kepada Ubay bin Ka'ab mengenai hakikat takwa. Ubay tidak menjawab dengan definisi kamus, melainkan dengan sebuah perumpamaan yang sangat logis:
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَأَلَ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ عَنِ التَّقْوَى، فَقَالَ لَهُ أُبَيٌّ: أَمَا سَلَكْتَ طَرِيقًا ذَا شَوْكٍ؟ قَالَ: بَلَى، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ؟ قَالَ: شَمَّرْتُ وَاجْتَهَدْتُ، قَالَ أُبَيٌّ: فَذَلِكَ التَّقْوَى
Dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, bahwasanya ia bertanya kepada Ubay bin Ka'ab tentang takwa. Maka Ubay berkata kepadanya:
- Ubay: "Pernahkah engkau melewati jalan yang penuh duri?"
- Umar: "Tentu saja pernah."
- Ubay: "Lalu apa yang engkau lakukan?"
- Umar: "Aku menyingsingkan pakaianku (bersiap-siap) dan bersungguh-sungguh (waspada agar tidak terkena duri)."
- Ubay: "Itulah yang dinamakan takwa."
Bahkan definisi Taqwa menurut Atsar Ali bin Abi Thalib
قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: التَّقْوَى هِيَ الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيلِ، وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيلِ، وَالرِّضَا بِالْقَلِيلِ، وَالِاسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيلِ
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata: "Takwa adalah..."
- الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيلِ (Al-khaufu minal jalil): Takut kepada Allah yang Maha Agung.
- وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيلِ (Wal-’amalu bit-tanzil): Mengamalkan apa yang diturunkan (Al-Qur'an dan Sunnah).
- وَالرِّضَا بِالْقَلِيلِ (War-ridha bil-qalil): Merasa rida (cukup) dengan pemberian yang sedikit.
- وَالِاسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيلِ (Wal-isti’dadu liyoumir-rahil): Mempersiapkan bekal untuk hari perpisahan (kematian).
- Takut kepada Allah: Bukan takut yang membuat lari, melainkan rasa segan dan pengagungan yang mencegah seseorang untuk bermaksiat karena merasa selalu diawasi (muraaqabah).
- Mengamalkan Al-Qur'an: Takwa tidak berhenti pada perasaan di hati, tapi harus termanifestasi dalam bentuk ketaatan pada hukum-hukum Allah secara nyata.
- Rida dengan yang Sedikit: Ini adalah sifat qana'ah. Menjaga hati agar tidak diperbudak dunia dan selalu bersyukur atas apa pun yang telah Allah tetapkan.
- Persiapan Hari Akhir: Menjadikan kematian sebagai pengingat utama untuk terus menabung amal saleh, karena dunia hanyalah tempat persinggahan sementara.
Definisi takwa menurut Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah salah satu definisi yang paling komprehensif dan sistematis. Beliau membagi takwa ke dalam empat pilar utama yang mencakup aspek batin, hukum, syukur, dan persiapan masa depan.
Jika Ubay bin Ka'ab menjelaskan takwa sebagai metode/cara (yaitu berhati-hati), maka Ali bin Abi Thalib menjelaskan takwa sebagai unsur/komponen yang membentuk karakter seorang mukmin.
Semoga kita menjadi mu’min muslim mujahid yang dimuliakan dengan Taqwa dibulan yang Mulia ini,
wallahu a’lam bishhowaab