Krisis Pendidikan dan Pentingnya Ilmu sebagai Wasilah Ketakwaan
A
Adi Rahmatulloh
10 Februari 20261 min baca17 views
Bagikan:
Daftar Isi
pendidikan kita saat ini tengah berada dalam kondisi kritis yang diibaratkan sebagai "fenomena gunung es". Berbagai kasus kekerasan, hilangnya adab, hingga degradasi peran guru mencuat ke permukaan, namun di baliknya tersimpan persoalan sistemik yang jauh lebih besar.
Potret Buram Pendidikan: Dari Kehilangan Adab hingga Beban Administratif
Pendidikan yang seharusnya melahirkan peradaban dan adab (lost adab), faktanya justru sering kali menjadi arena konflik.
- Degradasi Peran Guru: Muncul ungkapan miris dari para guru, "Saya bukan pendidik, tapi pengajar." Hal ini dipicu oleh trauma kriminalisasi saat mendidik anak serta beban administratif yang mencapai 60%, sehingga energi guru habis untuk urusan formalitas daripada membentuk karakter murid.
- Kekerasan di Lembaga Pendidikan: Data tahun 2024 menunjukkan adanya 573 kasus kekerasan di sekolah, dengan 42%-nya adalah kekerasan seksual yang mirisnya sering dilakukan oleh pendidik
.
- Tantangan Era Digital dan AI: Peran guru mulai tergantikan oleh Google dan AI. Hal ini menurunkan penghargaan murid terhadap guru dan menyebabkan penurunan minat belajar serta daya kritis akibat paparan konten negatif yang merusak otak (brain rot).
Pesantren dalam Sorotan: Muhasabah Institusi
Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia juga tidak luput dari isu miring, seperti isu feodalisme. Namun, diskusi ini menekankan pentingnya melihat peran besar pesantren dalam sejarah perjuangan bangsa.
- Dedikasi Tanpa Batas: Dicontohkan sosok Kiai yang mengajar hingga 6 jam sehari tanpa henti, menunjukkan integritas yang luar biasa.
- Momen Evaluasi: Meski serangan terhadap pesantren terkadang terasa berlebihan, fenomena ini harus dijadikan ajang muhasabah (evaluasi diri). Tanpa evaluasi, pendidikan hanya akan jalan di tempat tanpa tahu arah.
Kritik terhadap Pendidikan Sekuler: Bahaya "Nashiah" Tanpa Wahyu
Pendidikan sekuler dikritik karena memisahkan ilmu dari basis transenden (ketuhanan). Diskusi ini merujuk pada Surah Al-Alaq untuk menjelaskan bahaya intelektualitas yang sombong.
- Konsep Nashiah (Ubun-ubun): Al-Qur'an mengancam untuk menarik "Nashiah" atau ubun-ubun orang yang menolak wahyu. Secara neurosains, ubun-ubun (prefrontal cortex) adalah pusat kendali eksekutif, moralitas, dan kebijakan manusia.
- Intelektualitas Tanpa Moral: Pendidikan yang hanya mengandalkan rasio tanpa bimbingan wahyu akan menghasilkan manusia yang cerdas namun manipulatif dan tidak bertanggung jawab, mirip dengan karakter Abu Jahal yang menolak kebenaran meski secara rasional mengakuinya.
Solusi Islam: Ilmu sebagai Wasilah Ketakwaan
Islam menempatkan pendidikan sebagai perintah pertama (Iqra). Kedudukan ilmu dalam Islam sangat mulia karena:
- Ilmu sebagai Kunci Kebahagiaan: Berdasarkan kitab Taklim Muta’allim, ilmu adalah wasilah untuk membangun ketakwaan. Tanpa ilmu, seseorang tidak bisa bertakwa, dan tanpa ketakwaan, tidak akan ada kebahagiaan abadi.
- Penyatuan Wahyu dan Sains: Islam tidak mengenal pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Semua ilmu harus bermuara pada pengenalan terhadap Allah (Bismirabbik) agar tidak terjadi kerusakan di muka bumi (fasadun fil ard).
Kesimpulan
Pendidikan harus dikembalikan pada khitobnya sebagai proses memanusiakan manusia melalui cahaya wahyu. Kegagalan pendidikan tinggi dalam melahirkan integritas membuktikan bahwa ilmu saja tidak cukup tanpa pembangunan karakter dan ketakwaan. Inilah saatnya dunia pendidikan melakukan "sujud intelektual"—merendahkan ego rasionalitas di bawah bimbingan wahyu Ilahi.