Skip to main content
BerandaSpiritual LessonsKESUCIAN FITHROH DIBALIK RELUNG JIWA

KESUCIAN FITHROH DIBALIK RELUNG JIWA

K
Khaerul Umam
4 Februari 20261 min baca14 views
Bagikan:
KESUCIAN FITHROH DIBALIK RELUNG JIWA
Ada sesuatu yang unik saat kita coba membaca dan memahami buku Siroh Nabawiyyah karangan Syafiyyurrahman Al-mubarakfury dalam salah satu episode bagaimana masyarakat menyikapi peristiwa Renovasi Ka’bah, kita coba kutip tulisan beliau yang berbunyi :
notion image
“Namun akhirnya mereka sepakat untuk tidak memasukan bahan-bahan bangunannya kecuali yang baik-baik. Mereka tidak pula menerima hasil dari pelacuran, hasil jual beli dengan system riba dan hasil rampasan terhadap orang lain”.
Seperti tidak ada apa-apa, seperti sederhana, seperti tidak ada yang istimewa dari kalimat atau pernyataan tersebut. Namun, dibalik pernyataan itu tersirat kesucian fithroh, karena walau bagaimanapun kehadiran fithroh tidak bisa dipungkiri adanya bahkan pernyataan ini menjadi bukti bahwa masyarakat Mekkah memiliki kesadaran yang berasal dari geloran Iman Nurul Fithroh dan menjadi bukti juga bahwa layaklah seorang Nabi dan Rasul lahir ditengah-tengah mereka dari kalangan mereka, karena ada sinyal yang memeberi harapan dan hanya disanalah kesadaran itu muncul walau masih banyak dilakukan bahkan menjadi kebiasaan. Bukan Imperium Roma, bukan juga Imperium Persia, melainkan Arab dengan Mekkahnya sebagai pusat peribadatan yang memiliki latar belakang Ideologis yang kuat dengan adanya Ka’bah, tak disangka-sangka, entah dari mana asalnya bahkan Arab tidak dilirik oleh 2 Imperium besar ini namun akan menjadi tempat awal lahirnya peradaban yang bernama Islam dengan kesiapan iman yang konservatif (Iman Nurul Fithroh) pada individu-individu masyarakat mekkah.
Pada saat itu juga Muhammad bin Abdillah sebagai calon Nabi dan Rasul, akhlaqnya menjadi standar akhlaq terpuji ditengah-tengah mereka dengan disematkannya gelar Al-Amiin pada diri Muhammad bin Abdillah. Menjalin shilaturahmi, memikul beban, memberi makan orang miskin, menjamu tamu dengan baik dan menolong orang yang menegakkan kebenaran menjadi bukti bahwa akhlaq beliau layak dijadikan standard dan dijadikan modal dasar hadirnya Iman yang Haq didalam diri beliau dan menjadi dasar juga dalam membangun kesiapan dalam memikul amanah/tanggung jawab Da’wah Risalah yang amat berat luar biasa.
Pertanyaannya
Apakah Gelora Iman Nurul Fithroh hadir dan terjaga dengan baik dibalik relung jiwa kita?
Apakah kesucian Iman Nurul Fithroh kita terjaga dengan adanya amalan-amalan baik sebagai dasar memikul tanggung jawab yang lebih besar?
Apakah kita siap memikul Tanggung Jawab yang lebih besar?
Atau kita malah terbawa gelora fitnah akhir zaman sehingga tidak ada kesiapan dan kepantasan dalam memikul tanggung jawab yang lebih besar , Na’udzubillah
Oleh: Sahabat Mundzir